momentum dan kuantumisasi

dear reader, entri ini gua tulis di smanti menggunakan netbook mawar yang isinya korea semua. ga semua sih, gua melebaykan aja. tapi ya begitulah hahahhaaa gua emang kurang suka sama orang korea. << ini karena gua udah menyaksikan sendiri bagaimana orang korea itu bersosialisasi, dimana mereka merasa orang indonesia tuh pada ngefans sama dia dan mereka menganggap orang indonesia pribumi adalah para fans. so fuck bukan? open minded please, gua bukan ga suka sama individu yang menyukai korea, tapi gua emang ga suka pada korea. pikiran masyarakat yang terlalu dipengaruhi animo perlu dirubah. disini gua ga ngebahas subjek, tapi objek. be nice please

Masyarakat terlalu dipengaruhi oleh tren. Dimana yang namanya menyimpang berarti aneh. Sok asik. kebanyakan masyarakat indonesia adalah seperti itu, sekarang gua melihat masyarakat tak ubahnya adalah sebuah replika. (Terutama remaja yang masih SMP dan SMA)

Contoh paling mudah dilihat adalah soal musik. Remaja cenderung menyukai musik yang disukai oleh temannya. Mereka terjebak pada kungkungan yang sama dan cenderung malas untuk mengeksplor. Bisa dibilang bahwa remaja Indonesia terlalu banyak membeo, mengikuti apa yang sedang jadi tren terkini, dan menjadi berbeda adalah hal yang memalukan dan ketinggalan jaman.

Contoh lain adalah soal BBB (Behel, Blow, Blackberry). Kita perlu merasa aneh dengan animo ini, behel dipakai tidak lagi untuk fungsi yang sebenarnya, tapi lebih kepada mengikuti tren. Blackberry, yang sebenarnya dirancang untuk memuaskan para eksekutif, di Indonesia menjadi hp remaja, dan merupakan standar pengukuran strata sosial.

Tidakkah itu menyedihkan?

Komentar

Pos populer dari blog ini

tentang horor di smanti

beberapa alasan saya melepas UI

mengenal ksatria zaman medieval (pertengahan)