pendakian dan egoisme

Rumah gua terletak di daerah yang bisa dibilang pedesaan, dimana kebun dan sawah masih terhampar luas. Maklum, daerah gua masih  pedalaman. Jalur angkot baru masuk taun kemarin dan itupun sampai sekarang ga beroperasi di malam hari. Sialnyaaa.

Back to the topic, jadi karena rumah gua di pedesaan dan gua bisa ngeliat pegunungan salak dengan jelas, gua sering mikir waktu kecil : "gimana seseorang bisa sampai di puncak sana? kenapa orang orang mau kesana?" dan gua selalu membayangkan kalo puncak gunung itu kerucut. Hahaha 

Gua sering mendengar kisah kisah pendakian dari sodara gua, yang merupakan anak kampala (pecinta alam sma 4) angkatan 14 kalo ga salah. Bagaimana serunya, heroiknya, mistiknya, prestisnya kegiatan yang namanya "pendakian". 

Umumnya, di Indonesia ada dua kegiatan berbau alam yang sering ditekuni remaja. ke gunung dan ke pantai. Gua pernah ke pantai, waktu SD. Dan emang enak disana, nyantai, angin kenceng. Sedangkan buat ke gunung sendiri gua baru mulai merasakannya pas SMA. Mungkin ada diantara kalian semua yang ke gunung dari kecil, kaya baru baru ini yang gua denger ada anak baru umur 9 tahun menggapai 10 puncak di Indonesia, cewe lagi.

Me and my gear

Ke gunung, buat gua lebih menyenangkan daripada ke pantai nyantai. Lebih banyak pengalaman yang bisa didapet, bukan sekedar santai dan haha hihi kosong. Bagaimana lu memanajemen perjalanan lu mulai dari mempersiapkan bekal, anggaran, transportasi, jalur, timing dan sebagainya. Di kaki gunung dan start pendakian tenaga masih banyak tapi baru 100 meter udah ngos ngosan kaya kambing. Ngecamp dan masak buat menghimpun tenaga, bercengkrama sama tim seperjalanan lu, refreshing, istirahat. Tiba di puncak, summit atas segala usaha yang udah lu kerahkan, menikmati segar angin sambil melihat terbentuknya awan dibawah kaki kita. Foto foto di summit sama tim seperjalanan lu yang udah bersamanya kita sama sama susah senang. Turun tanpa meninggalkan anggota tim, "berangkat bareng pulang bareng". Mengatasi keegoisan diri, dan melihat keegoisan orang lain. Semuanya merupakan pengalaman yang lebih banyak, lebih berharga, dibanding sekedar haha hihi sambil ngegitar ga pake baju di pantai. 

Pendakian dan egoisme. Orang sering mengaitkan pendakian dengan egoisme, ada benernya juga sih. Saat lu melakukan kegiatan ini, mungkin karena faktor bawaan berat + medan nanjak > badan cape. Kalo badan cape, maunya istirahat, saat kita merasa butuh, kita akan berusaha memenuhi kebutuhan kita itu. Semakin merasa butuh, maka akan semakin berusaha memenuhi. Sehingga ego jadi sulit dikontrol. Ga heran ada yang bilang : "kalo mau liat karakter asli seseorang, bawa ke gunung". Jangan heran temen lu yang biasanya nyantai tiba tiba jadi pemarah, mau menang sendiri.

Yah dibalik itu semua, daun berderai, sejuk hawa pegunungan, gemericik air sungai, angin yang berderu, awan yang menggumpal dibawah kaki kita, pemandangan eksotik khas pegunungan, suasana serba damai dan menentramkan, merupakan pengalaman berharga buat siapa saja yang mengalaminya. 

Jangan pernah naik gunung! Nanti ketagihan. 

Komentar

Lia mengatakan…
mampir dari bloof, hehe. karena ga ada shoutmix jadi komen disini.
salam kenal :)
kapan2 blogwalking ke tmptku ya :D
-anwar- mengatakan…
sudah. baru SNMPTN yaa

Pos populer dari blog ini

tentang horor di smanti

beberapa alasan saya melepas UI

mengenal ksatria zaman medieval (pertengahan)