Tentang Indra

"anak jalanan, kota metropolitan..." 
(backsound lagu lawas)

Indra muda menyusuri jalanan sambil menenteng plastik berisi kantung kertas bungkus gorengan dan sebungkus nasi yang dibelinya dari siang tadi. Langkahnya semakin lelah, sudah beberapa kilometer dia berjalan hari ini untuk menghemat ongkos lantaran kantongnya semakin tipis.

Sudah dua minggu dia di ibukota. Sudah dua minggu dia tidur di mesjid manapun yang ditemuinya sehabis maghrib. Sudah dua minggu dia berkeliling ibukota mencari pekerjaan yang bisa dilakoninya. Sudah dua minggu dia menghampiri satu-persatu bengkel, binatu, toko, pabrik, dan banyak tempat lain yang ditemuinya. Sudah seminggu ini suaranya semakin habis. Sudah seminggu ini kemeja lusuhnya tidak pernah disetrika lantaran dicuci dan dijemur seadanya di mesjid tempatnya tidur. Baru seminggu ini dia makan nasi putih dikuahi sayur dan dua potong gorengan yang dibeli di pinggir jalan. Baru tiga hari ini dia minum air dari keran wudhu. Indra muda, semakin kehilangan harapan.

---

"Bah, ijinkan 'ndra pergi ke kota bah. 'ndra mau jadi orang kaya" Indra berkata pelan kepada Ujang, orangtuanya. Indra duduk di lantai agar lebih rendah dari orangtuanya. Kepalanya menunduk menatap kosong kepada lantai.

Ujang mengusap rambut anak remajanya pelan, lalu menarik nafas panjang. "Kamu inget rumah ya, mak pasti kangen". Hati kecilnya tidak rela mengijinkan anak semata wayangnya pergi. Dadanya terasa sesak, matanya terasa panas. Ujang berdiri, mengambil saringan untuk memunguti daun dan sampah, lalu melenggang pergi ke tambak.

Sudah beberapa hari Mak dan Indra bertengkar. Indra berkehendak untuk pergi ke ibukota dan mencari pekerjaan disana, bermimpi bisa pulang ke rumah dan membawa uang banyak untuk membahagiakan orangtuanya.

"'ndra mau belikan Mak perhiasan, mau belikan abah baju bagus, tolong ijinkan 'ndra mak" jawab Indra pelan setelah saling lempar kata kata pedas dengan ibunya. Dia mengambil sebutir pisang lalu memakannya gemetar.

Ibunya menunduk lalu menangis terisak. Dia tidak ingin anaknya pergi, tapi juga tahu bahwa keinginan anaknya sudah tidak bisa dibendung lagi. Berjuta cemas dan kekhawatiran mengalir deras di kepalanya, berjuta rasa sayang seorang Ibu, berjuta kata-kata yang tidak bisa diucapkan lagi karena tertahan di ujung lidah.

Ujang diam membisu.
Indra menyibakkan tirai kain yang menutup kamarnya perlahan, lalu tidak keluar lagi sampai pagi.

---

Indra berhenti di bawah pohon yang agak rindang, lalu duduk di pinggir jalan. Dia mengelus perutnya lalu merintih pelan karena terasa melilit. Beberapa orang memperhatikan sambil berlalu, mereka tidak berhenti. Mereka punya sesuatu yang harus mereka kejar. Mereka tidak lagi iba karena merasa dirinya juga membutuhkan. Indra muda menengadah menatap langit senja. Badan kurusnya terasa lebih tua dari umurnya.

Dengan langkah gontai dia memasuki mushola sempit. Dia bertekad bahwa ini terakhir kalinya dia tidur di mushola seperti malam sebelumnya. Dia bertekad untuk segera mendapatkan pekerjaan lalu mencari kontrakan yang bisa dihutangi segera setelah mendapatkan pekerjaan seperti harapan sehari sebelumnya. Indra membuka bungkusan nasi yang dibelinya tadi siang, baunya sudah tidak sedap karena kabarnya kuah santan cepat rusak. Beralaskan tas slempang hitam berisi baju pemberian omnya beberapa tahun lalu, Indra makan dengan setengah menahan nafas. Beribadah, lalu cepat tidur. Hari ini sudah berakhir.

---

Indra terbangun oleh suara benda terjatuh. Dilihatnya seseorang tengah menggotong kotak amal mushola tempat Indra tidur. Mereka saling tatap sebentar lalu orang tadi reflek bergegas berlari. Indra bangun lalu mengejar orang tadi sekuat tenaga, melewati gang-gang sempit ibukota yang diterangi beberapa lampu seadanya, menyebrangi jalan raya yang sudah sepi, dan masuk lagi ke gang sempit, lalu keluar lagi ke jalan raya.

"Udah, anjing!" Teriak orang tadi di tengah jalan sambil berbalik dan melemparkan kotak amal yang tadi dicurinya ke kepala Indra yang semakin dekat. Indra kaget lalu tidak sempat menghindar. Kotak amal itu menabrak kepalanya lalu pecah berantakan. Indra tersentak ke belakang lalu terjatuh di tengah jalan raya. Koin receh berhamburan pelan bersama beberapa lembar ribuan yang berterbangan perlahan. Waktu menjadi terasa amat lambat di saat seperti itu. Indra dapat merasakan tubuhnya terhempas ke jalan raya bersama silau lampu dan suara nyaring sirine truk, tidak lama kemudian dilihatnya pemandangan lampu jalan berganti menjadi hitam as truk, tanki bensin, ban cadangan, lalu langit.

Truk tadi cepat pergi.

Indra sadar. Ini benar-benar malam terakhirnya tidur di mushola. Tidak lagi terasa sakit, hanya rasa takut. Bintang-bintang berkedip mesra, pemandangan yang sudah amat langka di ibukota.

"Mak, 'ndra sayang mak"

-tamat-
saya sayang mama. saya sayang bapak

Komentar

arnadilla mengatakan…
aaaa akhirnya indra meninggal ya ? seduh banget :( tp war cara lu nyeritainnya bagus deh, gw jadi kaya ada disitu hehe
kerenn.. akhirannya bikin bergidik =="
tapi yg bikin gue agak mesem mesem, kenapa juga si indra tiba tiba makan pisang (≧▽≦) hahaha
-anwar- mengatakan…
tapi ga terlalu istimewa ya ceritanya

Pos populer dari blog ini

tentang horor di smanti

beberapa alasan saya melepas UI

mengenal ksatria zaman medieval (pertengahan)