ironisnya ironi

Ironi, agak susah sebenernya mendeskripsikan apa itu ironi. Yaa at least ga sesusah mendeskripsikan rekursif sih. Tapi, apa itu rekursif? Untuk memahami rekursif, pertama-tama anda harus memahami rekursif. Inilah rekursif.

Gua gatau apa kata-kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan ironi, jadi gua copas dari artikata.com

1. 1 kejadian atau situasi yg bertentangan dng yg diharapkan atau yg seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir: peristiwa pembunuhan Mahatma Gandhi adalah suatu -- krn ia adalah seorang pejuang tanpa kekerasan yg paling gigih; 2 Sas majas yg menyatakan makna yg bertentangan dng makna sesungguhnya, msl dng mengemukakan makna yg berlawanan dng makna yg sebe-narnya dan ketidaksesuaian antara suasana yg diketengahkan dan kenyataan yg mendasarinya; 
-- dramatik Sas 1 situasi yg timbul dl drama, apabila seorang tokoh mengucapkan sesuatu yg bermakna bagi pembaca atau penonton, tetapi tidak disadari oleh tokoh lain; 2 informasi yg diberikan kpd penonton atau pembaca melalui ucapan mengenai identitas seorang tokoh, maksud, atau suatu peristiwa
Thats's it. Untuk visualisasi atau penggambaran situasi yang ironis, gua juga kurang tau bagaimana. jadi nanti aja deh. kayanya gua ga akan menyertakan gambar atau visualisasi macam apapun.

And so, banyak hal ironi terjadi ke hidup gua, atau gua melihat didepan mata gua belakangan ini. Kaya hal yang dateng baik itu lewat cerita, sentuhan, atau apapun yang langsung membesitkan kata-kata di kepala gua "jir, ironi".

Banyak orang kasian ngeliat anak-anak dijalanan yang ngamen, atau jadi pengemis. Mereka yang mampu menyumbang secara langsung ke ormas penanganan anak-anak jalanan atau sebagainya. Banyak ironi terjadi disini :

  1.  Apa bantuan yang orang-orang mampu dapat berikan tepat sasaran? Nyatanya, masih lebih banyak orang (dalam kasus ini anak-anak jalanan) yang lebih menderita dan kelaparan. Lebih pedih hidupnya. Toh berdasarkan pengamatan nyata dan real yang gua temukan, kebanyakan anak-anak jalanan memang menyukai gaya hidup seperti itu dan sulit meninggalkan kehidupan mereka di jalanan. Liat betapa banyak ormas yang gagal mencerdaskan anak-anak tersebut ga? 
  2. Apa bantuan yang orang-orang mampu dapat berikan tepat guna? Komputer, rusak. Sekolah gratis, cuma beberapa bulan bertahan. Warung kejujuran, bangkrut. Taman membaca, sebulan juga udah bosen (mending pada mau baca, paling kalo mau juga ngilangin penasaran doang)
  3. Fact : kebanyakan dari anak-anak tersebut diorganisir oleh satu orang pimpinan, dimana mereka menagih setoran dari anak-anak jalanan tersebut. Nyatanya, bahkan kemungkinan uang yang anak anak tersebut dapat dari ngamen atau mengemis itu (seringkali) lebih banyak dari uang yang gua pegang pribadi. 
  4. Fact : kebanyakan dari anak-anak tersebut di usia abgnya menjadi pengamen yang juga mabuk, ngelem, bahkan ngedrugs. Dan mereka gamau pindah dari situasi tersebut karena beberapa hal ; mereka sulit diterima di masyarakat, mereka sudah terlanjur nyaman dengan gaya hidup tersebut (dapet uang, makan, tidur, boker, mabok, main cewek kalo duit banyak), otak mereka terlanjur tumpul dan pintu hatinya cenderung tertutup karena situasi yang menurut mereka nyaman tersebut
  5. Fact : Masih lebih banyak orang yang kelaparan di sekitar kita. So, ada tukang tahu yang setiap hari lewat rumah gua, dari gua kecil. Terakhir gua ketemu dia, dia lagi ujan ujanan, tahu dagangannya masih banyaaaak banget (padahal udah maghrib), dan dia gemeteran ngelayanin gua. Gua ga ngomong apa-apa saat itu, dan ironisnya, gua gabisa bantu apa-apa. Ga lama kemudian, dia ngomong : "tenang aja, masih banyka waktu", seolah paham ngeliat raut muka gua. Gua langsung...........cesssssss....... ngilu. 
Dan banyak hal lain sebenernya. Ironi kan? Banyak hal dan statemen yang gua berikan juga jadi ironi rupanya. 
Lalu gua merasa malu, pada diri sendiri.

Komentar

Pos populer dari blog ini

tentang horor di smanti

beberapa alasan saya melepas UI

mengenal ksatria zaman medieval (pertengahan)