killing time

Berikut adalah koleksi puisi yang dibuat selama jenjang waktu (hmm, berapa bulan ya -_-) entahlah. Pokoknya sejak jarang blogging lagi. Maklum, banyak hal yang mesti dikerjain meski sebenernya banyakan killing time nya.

Jangan suka killing time, time kills soalnya

--------------------------------------------------
Cemara

Setidaknya aku bisa sayang padamu
Dan rindu
Ketika demikian,
cemara berderai diantara sunyi
Derai cemara jadi saksi

--------------------------------------------------
Progo

Namanya progo
Bukan sekedar kotak kaleng dan derit besi tua bercampur karat
Progo adalah romansa
Tentang negara dalam negara
Tentang pendapatan dalam pendapatan
Tentang rakyat yang ditakdirkan untuk jadi rakyat

Progo malam berlari bersama angin
Membawa hati mereka-mereka yang dingin


--------------------------------------------------
Seperti Jatuh Cinta

Langit berhenti bernyanyi
Sakit bukan?
Kita berhenti bermimpi
Karena langit tak bernyanyi
Karena mimpi sudah tidak lagi berarti

Kita perlu berjalan
Bersama, bergandengan
Atau sesekali beriringan
Menyusuri padang ilalang, dimana...
Angin lembut menyapa,
mengiringi terpa jingga langit senja

Disana kita akan dapatkan, temukan
perasaan yang sama
perasaan yang langka

Rasanya seperti jatuh cinta


--------------------------------------------------
Hendra

Mas hendra memelukku, erat
Sangat erat, dia bersenandung
Bernyanyi
menggumami lagu cinta yang pernah jadi milik kami
Dia wangi sekali hari ini

Mas Hendra memang jarang mandi
Pun begitu aku sayang padanya
Dia juga sayang padaku, kan?

Kita berjoget, seolah tidak tahu apa-apa
Berjoget ditengah derit kayu tua
Ya, di bilik tua diatas tanah yang katanya milik negara
Kita berjoget, seolah tidak punya telinga
(saat ini pria-pria sangar berseragam berteriak-teriak bersahutan)
Tertawa bersama
Oh, bahagianya

Dan ketika...
Beberapa orang berseragam mencoba mendobrak pintu kami
Kami berhenti berjoget
Kami berpandangan, aku merasa lemas, lelah
Mas Hendra mengambil pisau panjang
Mas Hendra tersenyum, menyesal
Menyesal menikahiku, dan menyeretku ke dunia yang toh bukan milik kami
Mas Hendra memelukku, lagi
Erat, lebih erat lagi

"ndah, mati yuk"
Mas Hendra memelukku gemetar, menangis

Dan ketika...
terasa nesi dingin menembusi tubuh kami yang berpelukkan
Mas Hendra gemetar hebat
Aku merasa bodoh menuruti
Mas Hendra menyuruhku mati


Komentar

Raini Munti mengatakan…
waktu adalah uang =)

Pos populer dari blog ini

tentang horor di smanti

beberapa alasan saya melepas UI

mengenal ksatria zaman medieval (pertengahan)