Who do you think you are? Who do we think we are?

Belakangan lagi marak soal kasus Ibu ibu yang berdagang di siang bolong pada bulan ramadhan, kemudian ditutup paksa oleh aparat. Berita selengkapnya bisa dilihat disini

Berita itu bikin pro kontra yang cukup parah. Gua heran, orang Indonesia cepet banget kesulut sama berita macam gini. Yang diuntungkan cuma satu: si media penulis artikel. Bahkan ada yang sampai menggalang dana untuk disumbangkan ke si Ibu. Ckckck. 

Soal dana, gua yakin, asal niatnya tulus, pasti diterima oleh Tuhan YME. Itu sudah urusan masing masing hamba dengan Tuhannya dan kita gaperlu ikukt campur. Bukan ini sih yang sebenernya pengen gua bahas. Tapi, betapa sempitnya cara berpikir masyarakat Indonesia. Melihat suatu kasus cuma dari sudut pandangnya sendiri dan kemudian merasa pendapatnyalah yang maha benar. 

Please......
Ada banyak cara melihat suatu masalah. Kita ga bener bener tau ada apa dibalik itu kecuali berdasarkan opini yang dibentuk oleh media. 

  1. Dilihat dari sudut pandang agama.
    Haram hukumnya menjual makanan pada orang yang tidak berpuasa tanpa ada sebab yang dibenarkan oleh agama, karena hal itu termasuk ke dalam kategori saling membantu dalam keburukan. Namun dibolehkan menjual makanan pada siang hari bulan Ramadan kepada anak kecil yang belum wajib berpuasa, wanita Haidh atau nifas yang dilarang berpuasa. Dan menjual makanan kepada orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa karena sakit atau sedang perjalanan termasuk para sopir bus antar kota dan orang yang membelinya untuk persiapan buka puasa.

    Allah SWT berfirman:
    "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran."(QS Al-Maidah, 2)

    Jangan pernah ragu akan rizqi yang sudah ditentukan oleh Allah untuk kita. Kalau kita meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan memberi ganti yang lebi baik.

    "Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, kecuali Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik bagimu (HR Ahmad)

    sumber

  2. Dilihat dari sudut pandang orang yang berpuasaBanyak orang yang menyalahkan peraturan merazia pedagang yang menjual makanan di bulan puasa karena seharusnya sebagai mukmin yang baik, sudah tugas kita untuk menahan diri dari godaan. Banyak sekali orang yang bicara nyinyir soal aturan merazia pedagang yang berjualan di bulan puasa. Tapi, bukannya marah marah malah mengurangi pahala berpuasa?

  3. Dilihat dari sudut pandang aparatAparatur, Pol PP, dsb, cuma melaksanakan tugas. Dan gua rasa sebelum mereka merazia, selalu ada sosialisasi sebelumnya. Atau kalau dadakan, PASTI, pedagang dan masyarakat sekitar sudah memberi kode kepada pedagang lainnya. Tersisa pedagang yang bandel dan atau pedagang yang pas lagi dikabari ada razia lagi tidak di lapak (mungkin lagi ee).

    Pol PP dan atau apapun itu yang merazia, cuma melaksanakan tugas,
  4. Dilihat dari sudut pandang si Ibu
    Tega banget sih orang lagi cari nafkah digulung, makanan mubazir dibuang buang kedalem plastik gitu. Mentang mentang orang kecil, kalian cuma gagah kepada orang kecil.

    inspirasi liriknya iwan fals, "masalah moral masalah akhlak biar kami cari sendiri, urus saja moralmu, urus saja akhlakmu"

    Ironi sebenernya kalau orang kecil digulung tapi mafia kelas kakap didiamkan. Mungkin di posisi yang bisa dan berhak menindak, kita bakal lebih faham soal ironi ini.
  5. Dilihat dari sudut pandang pemberi donasi
    Kemungkinan besar ada dua niat utama memberi donasi
    a. Memberi donasi karena kasihan, dan ingin si Ibu melanjutkan perjuangannya.
    b. Memberi donasi sambil mengumpat "kurang ajar ini aparat"

    In fact, donasi dari netizen menyentuh angka 100jt rupiah
  6. Dilihat dari sudut toleransi beragama
    Islam sebagai mayoritas agama di Indonesia, dengan jelas melarang berjualan makanan di siang hari di bulan Ramadhan kepada orang yang tidak berpuasa padahal dia sanggup atas alasan apapun kecuali yang disebutkan di poin 1. Melarang berjualan di bulan ramadhan kurang lebih sama seperti tidak dibukanya bandara I Gusti Ngurah Rai pada hari raya Waisak.
  7. Dilihat dari sudut pandang pedagang lain yang digulung
    "Enak amat ini ibu ibu dapet duit 100jt dari orang cuma karena nangis."
    "Yeh salah sendiri jelas jelas ada pol pp masih buka"
    "Yaudalah emang rejeki si Ibu kali"
  8. Dilihat dari sudut pandang reporter
    Alhamdulilah dapet berita hot, target tercapai
  9. Dilihat dari sudut pandang pemilik media
    Berita ini meningkatkan traffic ke web kita sampai sekian persen, pendapatan dari iklan sampai sekian rupiah, cepat cari aspek lain yang bisa diangkat.
    Caption awal


    Edited
  10. Dilihat dari sudut pandang anak si Ibu
    "Kok hari ini kita ga buka puasa bu?"

    beberapa hari kemudian

    "Bu kita punya uang dari mana...?"

Dan puluhan sudut pandang lainnya yang bisa tiba-tiba muncul dan tiba tiba diangkat. 

Betapa sempitnya cara berpikir orang Indonesia, cuma karena berita kaya gini tiba tiba flaming dan menimbulkan perdebatan. Bahkan hubungan pertemanan bisa rusak cuma karena berbeda pendapat seperti ini. Perselisihan yang cuma diawali rasa angkuh karena merasa paling benar, merasa pendapatnya paling yahud, Padahal, siapa kita bisa judge? Allah Maha Tahu. 

Oknum sih, PASTI banyak juga yang masih lurus dalam mencari nafkah. Insya Allah si Ibu bagian dari yang lurus. Bisa jadi kejadian ini merupakan ujian buat si Ibu agar lebih bertakwa lagi. 

Bisa jadi si Ibu tsb gapernah puasa sbenarnya. Jadi kejadian ini merupakan teguran buat si Ibu, Gua banyak berhubungan dengan para pedagang makanan, yang kenyataannya, di bulan puasa mereka tidak berpuasa karena pekerjaan membuat makanan memang relatif berat. 

Lagi lagi, who do you think you are to judge? Kebenaran mutlak cuma milik Tuhan. 

Jadi pribadi yang baik dan bermanfaat aja. Buat apa ngurusin hal-hal yang sebenarnya cuma menguntungkan beberapa pihak yang tidak kita ketahui. Menguntungkan setan yang ngasih godaan lewat hal kaya ginian sehingga kita berselisih. 

Ingin berdonasi buat si Ibu? Silakan :) Semoga amal ibadahmu diterima oleh Tuhan.
Sudahkah memberi kepada orang tuamu? Gua pribadi merasa belum bisa ngasih banyak dan sampai saat ini masih sering nyusahin orang tua. (Yep, silakan hina...) 
Sudahkah berdonasi kepada kerabat yang membutuhkan?
Sudahkah berdonasi kepada pasukan ronda deket rumah?
Sudahkah berdonasi kepada kakek yang jualan pisang tengah malam di pinggir jalan karena menolak mengemis dan menolak untuk dosa karena berdagang makanan di siang hari (baca lagi poin 1)?

Jika sudah menjadi aturan, maka yang salah adalah yang melanggar aturan. 
Jika aturannya yang salah, salahkan yang membuat aturan. Tapi, dilihat lagi: kenapa aturan tsb dibuat?

Siapa kita bisa judge? 

Komentar

Pos populer dari blog ini

tentang horor di smanti

beberapa alasan saya melepas UI

mengenal ksatria zaman medieval (pertengahan)